GUNUNG PUTRI — Misi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, misi tumbuh melalui doa sederhana, kebersamaan, dan tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih. Semangat inilah yang mewarnai perayaan Misa Peringatan 100 Tahun Hari Misi Sedunia Sekami Anak dan Remaja Persekutuan Santo Vincentius a Paulo (PSVGP) pada Minggu, 18 Oktober 2026. Mengusung tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi” yang diambil dari Yohanes 17:21. Perayaan ini menjadi momen untuk menghayati persatuan dalam Kristus sekaligus menumbuhkan semangat misioner sejak usia dini. Misa berlangsung pukul 08.00 WIB hingga selesai, dipimpin oleh RD. Yulius Eko Priyambodo. Suasana perayaan terasa istimewa dengan kehadiran umat dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, Orang Muda Katolik (OMK), orang tua, hingga kakek dan nenek. Keberagaman ini menghadirkan gambaran bahwa semangat misi merupakan panggilan bersama yang melibatkan seluruh umat, tanpa dibatasi usia.
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah perarakan pembuka yang melibatkan perwakilan anak-anak SEKAMI. Mereka mengenakan kaos dengan warna berbeda sesuai wilayah masing-masing. Hijau untuk Wilayah St. Yusuf yang melambangkan Benua Afrika, merah untuk Wilayah Petrus Kanisius yang melambangkan Benua Amerika, putih untuk Wilayah Theresia yang melambangkan Benua Eropa, biru untuk Wilayah Louis yang melambangkan Benua Australia dan Oseania, serta kuning untuk Wilayah MRPD yang melambangkan Benua Asia. Perbedaan warna tersebut bukan sekadar bagian dari busana perayaan. Setiap warna merepresentasikan wilayah yang berbeda, tetapi semuanya berpadu dalam satu semangat misi. Melalui perarakan ini, anak-anak diajak untuk mengenal keberagaman sekaligus menghayati bahwa persatuan dalam Kristus dapat menyatukan mereka dalam karya misi Gereja.


Keterlibatan anak-anak dan umat dari berbagai generasi memberikan warna tersendiri bagi peringatan yang istimewa ini. Menjelang berkat penutup, suasana perayaan semakin semarak melalui penampilan anak-anak TSOM dan SEKAMI. Mereka membawakan gerak dan lagu “Sahabat Setia Yesus” dengan penuh sukacita. Anak-anak yang tampil mengenakan kaos sesuai dengan ketentuan dress code wilayah masing-masing, sehingga warna-warni yang sebelumnya hadir dalam perarakan kembali terlihat dalam penampilan tersebut. Penampilan ini juga menjadi bagian dari keterlibatan aktif anak-anak dalam perayaan, bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan menggereja.
Perayaan pun tidak berhenti ketika Misa selesai. Setelah Ekaristi, anak-anak TSOM dan SEKAMI bersama-sama berdoa Rosario di Gua Maria Bunda Maria Penolong Abadi PSVGP bersama RD. Yulius Eko Priyambodo. Seusai berdoa, mereka membakar kertas yang berisi permohonan dan doa. Momen ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membawa intensi dan harapan mereka dalam doa. Kebersamaan di Gua Maria melengkapi rangkaian perayaan dengan suasana yang lebih hening dan reflektif, sekaligus mengingatkan bahwa semangat misi juga bertumbuh melalui relasi dengan Tuhan.
Ada hal lain yang turut memberi makna pada perayaan tahun ini. Setelah Misa, umat juga disediakan aneka makanan rebus, seperti ubi, jagung, dan kentang, serta beberapa jenis sayuran. Penyediaan makanan ini menjadi simbol yang dikaitkan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia yang bertepatan dengan perayaan tersebut. Kehadiran makanan sederhana ini mengajak umat untuk melihat bahwa perhatian terhadap pangan juga merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama. Pangan bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi setiap hari, melainkan kebutuhan mendasar yang berkaitan dengan kehidupan dan kesejahteraan manusia.



Dalam semangat misi, kepedulian dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap kebutuhan orang lain dan kesediaan untuk berbagi. Dengan demikian, perayaan tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdoa bersama, tetapi juga untuk mengingat kembali pentingnya sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan 100 Tahun Hari Misi Sedunia melalui SEKAMI Anak dan Remaja PSVGP menghadirkan berbagai momen yang saling melengkapi: perarakan dengan warna yang mewakili keberagaman wilayah, gerak dan lagu yang penuh sukacita, doa Rosario bersama di Gua Maria, hingga simbol kepedulian terhadap pangan.
Seluruh rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa semangat misi dapat diperkenalkan melalui pengalaman yang sederhana, dekat dengan kehidupan anak-anak, dan melibatkan kebersamaan umat. Anak-anak pun memperoleh ruang untuk mengambil bagian dalam perayaan iman sekaligus mengenal arti persatuan dan kepedulian terhadap sesama. Tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi” bukan hanya menjadi semboyan perayaan, tetapi juga pengingat bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam misi melalui hal-hal yang dilakukan sehari-hari. Sebab, ketika iman diwujudkan dalam doa, kebersamaan, dan kepedulian, semangat misi dapat terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi sesama.
(Artike, editor, dan dokumentasi oleh Komsos Vincentius – Vyona, Mafa, Dinar, Renata)



