Dari Maria Menuju Hati Kudus: Pembukaan Bulan Maria di Jumat Pertama

GUNUNG PUTRI – Penetapan bulan Mei sebagai bulan Maria berasal dari perkembangan tradisi dan devosi dalam Gereja Katolik yang cukup panjang. Bulan Mei identik dengan musim semi dimana bunga-bunga bermekaran. Keindahan ini dilihat sebagai simbol kemurnian dan keindahan rohani Maria, ibu Yesus. Tahun ini, bulan Maria bertepatan dengan Jumat pertama (01/05/26). Dalam spiritualitas Katolik, Jumat pertama memiliki tempat istimewa. Ia berkaitan dengan devosi kepada Yesus Kristus melalui penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Bunda Maria adalah dia yang paling dekat dengan misteri kasih itu. Ia yang berdiri di kaki salib, menyimpan luka dalam diam, namun tidak kehilangan iman.

Rencana awal pembukaan Bulan Maria akan dilaksanakan di taman doa Bunda Penolong Abadi. Akan tetapi, hujan yang turun sejak menjelang sore, membuat kegiatan ini dipindahkan ke dalam gereja. Perayaan dimulai dengan doa Rosario yang dipimpin oleh lima ketua wilayah PSVGP (Paroki Santo Vincentius a Paulo Gunung Putri.

Sesudah doa rosario, lima ketua wilayah berarak menuju patung Maria Assumpta untuk mempersembahkan bunga mawar dan meletakkan kertas permohonan ke dalam guci yang telah disiapkan. Di belakang para ketua wilayah, umat mengikuti dengan membawa persembahan bunga mawar dari ungkapan kasih, harapan, sekaligus penyerahan diri. Setelah itu, Pastor bersama petugas liturgi berjalan menuju altar sebagai tanda perayaan Ekaristi dimulai. Pastor bersama para petugas liturgi terlebih dahulu mempersembahkan bunga mawar di hadapan Maria sebagai hubungan yang harmonis antara devosi dan liturgi: penghormatan kepada Maria mengantar umat kepada pusat iman, yaitu Yesus Kristus yang hadir dalam Ekaristi.

Dalam homilinya, RD. Yulius Eko Priyambodo menyampaikan dua pokok refleksi yang sederhana, tetapi berkesan kuat. Pertama, jangan sampai kegelisahan mengalahkan iman. Kedua, bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup (bdk. Injil Yohanes 14:6). Di tengah kehidupan yang sering dipenuhi ketidakpastian, pesan ini menjadi pengingat bahwa iman bukanlah ketiadaan kegelisahan, melainkan keberanian untuk tetap percaya di dalamnya.

Perayaan dilanjutkan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Umat diajak untuk merenungkan kasih Allah yang terbuka dan setia. Jika bulan Maria mengajarkan keheningan dan penyerahan, devosi Hati Kudus mengajarkan keterbukaan dan kasih yang memberi diri.Keduanya saling melengkapi dalam perjalanan iman.

Tradisi Gereja sendiri telah lama melihat bulan Mei sebagai waktu yang istimewa untuk menghormati Maria. Dalam Marialis Cultus ditegaskan bahwa devosi kepada Maria harus berakar dalam liturgi dan mengantar umat semakin dekat kepada Kristus. Karena itu, seluruh rangkaian perayaan ini menemukan kesatuannya: dari rosario, persembahan bunga, hingga Ekaristi dan devosi, semuanya bergerak menuju pusat yang sama. Akhirnya, pembukaan bulan Maria ini menjadi pengingat bahwa iman tidak menuntut segalanya berjalan sempurna. Ia hanya meminta satu hal: kesediaan untuk tetap datang, tetap berdoa, dan tetap percaya.

(Artikel dan Dokumentasi oleh Komsos Vincentius- Risma, Junny, dan Renata)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *