Menapaki Jalan Kasih: Refleksi Jumat Agung di Paroki Santo Vincentius a Paulo Gunung Putri

GUNUNG PUTRI – Jumat Agung (3/4) bukan sekadar peringatan, melainkan undangan untuk masuk lebih dalam akan misteri kasih yang paling agung. Di Paroki Santo Vincentius a Paulo Gunung Putri, umat berkumpul sejak pagi hari, memulai permenungan melalui Jalan Salib pukul 08.00 WIB.

Pagi itu, setiap langkah dalam Jalan Salib menjadi perjalanan batin. Dari satu perhentian ke perhentian berikutnya, umat diajak bukan hanya mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga menyadari bahwa setiap luka yang Ia tanggung adalah wujud kasih yang nyata. Jalan Salib menjadi ruang hening, tempat kita belajar bahwa memikul salib bukanlah tentang kelemahan, melainkan tentang kesetiaan dalam mengasihi. Sebagaimana yang tertulis dalam Injil Yohanes 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Perintah ini mencapai puncak maknanya dalam peristiwa Jumat Agung, kasih yang tidak berhenti pada kata, tetapi dinyatakan melalui pengorbanan yang total.

Memasuki pukul 15.00 WIB, suasana semakin hening dan mendalam dalam Ibadat Jumat Agung yang dipimpin oleh Pastor Eko. Tanpa kemeriahan yang biasa kita jumpai pada dekorasi altar, Gereja mengajak umat masuk dalam keheningan dan menghayati sengsara Yesus di kayu salib.

Waktu seakan melambat, memberi ruang bagi hati untuk sungguh hadir di hadapan misteri kasih yang agung. Setiap kain ungu yang dilepaskan perlahan dari salib menjadi simbol penyingkapan yang mendalam untuk membuka mata iman kita bahwa penderitaan bukanlah akhir. Kayu salib yang dahulu menjadi tanda kehinaan kini berdiri sebagai lambang kemenangan bahwa kasih Allah bekerja dalam diam dan mengalahkan segala kegelapan.

Mengikuti Jalan Salib dan Ibadat Jumat Agung berarti membuka hati untuk diubah; belajar untuk mengasihi dengan lebih setia, tulus, dan berani. Pada akhirnya, salib bukanlah tanda kekalahan, melainkan kemenangan kasih yang memberi, bertahan, dan menyelamatkan.

(Artikel dan Dokumentasi oleh Komsos Vincentius – Diva, Tian, Anne, Renata, dan Marcel)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *