Rabu Abu: Awal dari Masa Perjalanan Pertobatan

Hari ini (18/02/26), umat Kristiani merayakan Rabu Abu, masa yang penuh rahmat untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bertobat. Rabu Abu menjadi awal dimulainya masa prapaskah yang ditandai dengan kebiasaan berpantang dan berpuasa.

Dari manakah asal abu tersebut?
Abu yang telah kita terima adalah abu dari pembakaran daun palma kering yang telah diberkati pada Minggu Palma. Penandaan abu pada dahi adalah simbol bahwa dari debu dan kepada debu kita akan kembali. Kita diajak untuk selalu rendah hati dan hidup dalam pertobatan.

Biasanya, pada misa Rabu Abu kita akan mendengar “Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil.” Ini bukan hanya sekadar seruan yang terucap, tetapi pesan tersebut harus benar-benar dimaknai untuk pertumbuhan iman kita. Pesan pertobatan itu mengajak kita untuk melihat kembali arah hidup kita terlebih relasi kita dengan Tuhan.

Ada tiga hal yang harus dimaknai selama masa prapaskah, yaitu berdoa, berpuasa, dan bederma. Dalam masa penantian ini hendaknya kita semakin memperdalam iman kita dengan berdoa. Bacaan Injil hari ini ingin kembali mengingatkan bahwa saat berdoa, kita sebaiknya berdoa dengan penuh kesungguhan tanpa perlu mencari validasi kepada orang lain. Dengan berpuasa, kita dilatih untuk mengendalikan diri dan rendah hati. Bederma juga menjadi salah satu hal yang penting. Tuhan telah lebih dulu mengasihi umat-Nya, maka kita hendaknya juga dapat mengasihi sesama dengan menyisihkan sedikit yang kita miliki.

Pertobatan adalah sebuah perjalanan, bukan perubahan instan. Setiap langkah kecil yang kita lakukan, seperti memaafkan, menahan emosi, jujur, atau menyempatkan diri berdoa adalah bagian dari perjalanan itu. Abu di dahi kita adalah tanda harapan. Saat ini, Tuhan bekerja di dalam kita. Masa prapaskah menjadi kesempatan untuk memperbarui hati agar ketika Paskah tiba, kita tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus secara liturgis, tetapu juga mengalami kebangkitan dalam hidup kita sendiri. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati dan membersamai kita.

(Artikel dan dokumentasi oleh Komsos Vincentius – Mafa dan Anne)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *