Sejarah Paroki St. Vincentius a Paulo Gunung Putri

Paroki St. Vincentius A Paulo Gunung Putri pada awalnya merupakan sebuah lingkungan dari Stasi St. Simon – Citeureup. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan umat di Gunung Putri terus meningkat dengan kehadiran beberapa kompleks perumahan baru. Sejalan dengan itu, muncul keinginan untuk meningkatkan status lingkungan menjadi wilayah.

Diceritakan, suatu waktu pada tahun 1991, Pak Roni menghadiri rapat bersama Bapak Budi Susanto, Ketua Lingkungan St. Vincentius. Rapat tersebut bertujuan memohon Stasi St. Simon – Citeureup untuk membantu menigkatkan status lingkungan menjadi wilayah.

Permohonan diterima oleh para pengurus stasi dengan tangan terbuka. Mereka menilai, pemekaran ini merupakan sebuah kebutuhan, mengingat jumlah kepala keluarga katolik (KK) yang ada sudah melebihi standar operasional yang tercantum dalam Pedoman Dasar Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP) PKKC.

Usulan itu, selanjutnya disampaikan ke Dewan Pastoral Harian yang dikepalai RD.  Frans  Lorry, Pastor Paroki PKKC tahun 1991-1995.

Meski persetujuan pemekaran sudah dicapai tahun 1991, akan tetapi, Wilayah St. Vincentius baru terealisasi pada November 1998.

Setelah dikukuhkan menjadi wilayah, lalu dilakukan pemilihan pengurus wilayah yang diadakan di rumah Bpk. Fred H. Taka. Dalam proses itu, Bapak B.F. Budi Susanto terpilih menjadi Ketua Wilayah; (alm.) Bpk. Wardono-Sekretaris; Bpk. B. Pujiarto  Bendahara; (alm.) Bpk. Denny Janssen-Sie Rohani; Bpk. BMC Setyantoro-Sie Liturgi.

Wilayah ini memiliki 4 lingkungan yaitu: Lingkungan BTN Gunung Putri, Kranggan, PT. IPI dengan ketuanya Bpk. R.W. Handoko; Lingkungan Kadep, Gunung Putri  ketuanya Bpk. A. Suwardono; Lingkungan Griya Bukit Jaya ketuanya Bpk. F. Roni Simanjuntak; dan Lingkungan Wanaherang – Cicadas ketuanya Bpk. Ig. Wardi.

Setelah menjadi wilayah, umat sepakat untuk tetap menggunakan nama St. Vincentius sebagai nama wilayahnya.

Pembangunan Kapel

Kehadiran kapel diawali dengan adanya hibah tanah oleh Perumahan PT. Ferry Sonneville seluas 1.000 m2 tahun 1999 (1996).

Penyerahan tanah hibah ini disaksikan oleh para perintis awal dan umat, serta pihak PT. Ferry Sonnevile. Pastor Paroki PKKC, RD. Agustinus Adi Indiantono (1999-2000) saat menerima hibah tersebut langsung mengintruksikan para pengurus wilayah untuk segara mengupayakan lahan itu. Tanah itu terletak di Jalan Gunung Putri Utama II, Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Bogor.

Setelah mendapatkan tanah, lalu dilanjutkan dengan pembentukan Panitia Pembangunan Kapel St. Vincentius Gunung Putri. Panitia ini diketuai oleh Bpk. Frederich H. Taka (alm) dan Bpk. Mayjen Ignatius Moeljono (alm), dibantu para pengurus wilayah dan pengurus tiga lingkungan, serta orang-orang muda yang saat itu sedang mekar dengan ragam kegiatan kepemudaannya.

Menurut Ibu Olivia Theresia S. Surodjo – istri (alm) Bpk. Frederich H. Taka, panitia pembangunan kapel dikukuhkan pada tanggal 5 Mei 1996, dalam misa kudus yang dipimpin Uskup Emeritus Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, sekaligus memberkati Bpk. Fred, sapaan Frederich, bersama tim inti untuk segera melanjutkan pendirian gedung kapel.

Tanggal 15 Oktober 1997, dibuatkan permohonan rekomendasi pembangunan gereja kepada Departemen Agama, Kabupaten Bogor, Satuan Polisi Pamong Praja, Tim Pembuatan Anggaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta tim-tim lainnya dengan anggaran Pajak Bumi dan Bangunan saat itu Rp. 266. 500.

Sambil pengurusan IMB, panitia terus mengusahakan keluarnya Akte Hibah. Harapan ini tercapai tanggal 14 Januari 2000 dengan keluar Akte Hibah, lalu tanggal 15 Maret 2000, keluar sertifikat hak milik No. 1643, dengan luas tanah 1000 m², dengan pemilik lahan adalah Paroki Keluarga Kudus Cibinong.

Selanjuntya, tanggal 14 Oktober 2000, RD. Michael Suharsono memberi kuasa sepenuhnya kepada Bpk. Denny Jansen, seorang pegawai Swasta, pengurus Wilayah St. Vincentius Gunung Putri untuk segera memulai pembangunan.

Pada Juni 2001, panitia mulai menyediakan batu kali untuk pondasi awal gedung gereja. Selanjutnya tanggal 4 Agustus 2001, diadakan pembaharuan sususan Panitia Pembangunan dengan Ketua Umum adalah Mayjen Ignatius Moeljono dengan tim khusus untuk pembangunan gereja. Setelah itu pada Sabtu kliwon, 1 September 2001, Pkl. 09.00 WIB, diadakan pemberkatan lokasi sekaligus peletakan batu pertama oleh RD. Ignatius Besembun.  Batu pertama diletakkan oleh Bpk. Fred H. Taka dan Bp. Ignatius Moeljono.

Tanggal 27 November 2001, datanglah Surat Pernyataan dari Kepala Desa Gunung Putri yang menyetujui dibangunnya gereja Katolik yang berlokasi di Kompleks Perumahan Putri Indah, Gunung Putri, Tlajung Udik. Keputusan ini keluar tentu tak lepas dari perjuangan panitia dalam hal ini adalah Mayjen Ignatius Moeljono. Misa perdana terjadi pada Oktober 2009 oleh Pastor Paroki PKKC RD. Michael Suharsono.

Pembentukan Wilayah Baru

Di bawah kepengurusan yang baru, Wilayah St. Vincentius dimekarkan menjadi 3 wilayah, yakni:

Pertama, Wilayah St. Yusuf, dengan wilayah teritorial Desa Cicadas & Desa Wanaherang, jumlah kepala keluarga saat itu adalah 93 kepala keluarga. Ketua wilayah pertama adalah Bpk. Iwan S. Tanu (1999-2006). Ada tiga lingkungan di Wilayah St. Yusuf yaitu Lingkungan Bonaventura diketuai Bpk. Agustinus Neno; Lingkungan St. Bonifasius dengan ketua Bpk. Cornelis B. Pati; dan Lingkungan St. Bartolomeus dengan ketua Ibu MM. Kilatsih.

Kedua, Wilayah St. Louis dengan wilayah teritorial Perumahan Griya Bukit Jaya. Ketua Bpk. Paulus Slamet, dengan jumlah umat saat itu sekitar 103 kepala keluarga (388 jiwa). Ada tiga lingkungan yang masuk wilayah ini yaitu Lingkungan Sta. Fransiska dengan ketua Bpk. Fransiskus T. Deornay; Lingkungan St. Monika dengan ketua Bpk. Felix Bambang Tri; dan Lingkungan Sta. Sisilia dengan ketua lingkungan Bpk. Aloysius Himawan JE.

Ketiga, Wilayah Sta. Theresia dengan Teritori wilayah ini ialah pertigaan PT Indocement, bagian selatan perbatasan Perum Griya Bukit Jaya dan terowongan rel Kereta Kranggan. Ketua Wilayah Bpk. Paulus Sundoyo Hadi. Jumlah umat saat itu adalah 176 kepala keluarga (535 jiwa). Dengan makin banyaknya perumahan di daerah itu baik itu Perum Villa Permata Mas, Griya Estetika dan Perum Pesona Prima Karanggan, beberapa umat meminta agar dibuat lingkungan baru yaitu St. Petrus Kanisius yang diprakarsai Bpk. Anton Wahyu dan Bpk. Lauren W, dan Bpk. Yohanes Fernandez bersama umat lainnya dengan jumlah umat saat itu 56 kepala keluarga (115 jiwa). Maka selain Lingkungan Petrus Kanisius dengan ketuanya Bpk. Melki Wora, kemudian Lingkungan St. Christophorus dengan jumlah jiwa 53 kelapa keluarga (163 jiwa) dan diketuai Ibu Maria Andy Ferry Astuti; kemudian Lingkungan St. Leonardus dengan jumlah umat 67 kepala keluarga (201 jiwa) yang diketuai Bpk Leonardus da Silva.

Setelah pemekaran 3 wilayah dan 9 lingkungan, mulailah diadakan pelayanan Misa sebulan sekali lalu menjadi dua bulan sekali, dan akhirnya menjadi Misa rutin setiap minggu.

Penetapan Stasi St. Vincentius

Seiring bertambahnya umat di Wilayah St. Vincentius, pihak keuskupan pun meningkatkan status wilayah menjadi Stasi St. Vincentius Gunung Putri pada 22 Juli 2012 dengan Bpk. Roni Simanjuntak dipilih sebagai Ketua Stasi pertama St. Vincentius Gunung Putri, kemudian pada tahun 2015, terpilih Bpk. Antonius Dwi Kristiawan  dan tahun 2019, terpilih Bpk. Petrus Jemadi sebagai Ketua Stasi St. Vincentius Gunung Putri.

9,5 tahun sudah perjalanan Stasi St Vincentius Gunung Putri dilaluinya akhirnya tanggal 25 Januari 2022 Stasi St Vincentius di resmikan menjadi Paroki St Vincentius A Paulo Gunung Putri.