TEMU KOMSOS REGIO JAWA 2024

BERCENGKRAMA BERSAMA TEKNOLOGI, BUDAYA, DAN ALAM

Sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun  regio Jawa mengadakan pertemuan Temu Komunikasi sosial, yang mencakup tujuh keuskupan yaitu, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Malang, Keuskupan Purwokerto, dan Keuskupan Surabaya.

Foto bersama Bapa Uskup dengan Para Romo

Temu Komsos Regio jawa 2024 diadakan di keuskupan Bogor, mulai tanggal 23-26 Mei 2024 di Hotel Jayakarta Villa Banten. Ada 30 peserta perwakilan dari tujuh keuskupan dengan tema pertemuan “Bercengkrama Bersama Teknologi, Alam dan Budaya.”

Bukan Sekedar Angan-angan

Kegiatan hari pertama dimulai dengan misa konselebrasi dengan selebran utama Mgr Paskalis Bruno Syukur selaku Uskup Keuskupan Bogor, didampingi oleh empat romo dari keuskupan bogor yaitu RD. Antonius Garbito Pamboaji, RD. Yustinus Joned Saputra, RD. Marselinus Wisnu Wardhana, RD. Petrus Sunusmo Galih Widodo, serta RD Heribertus Budi Purwantoro dari Keuskupan Semarang, RD. Robertus Theo Elno Respati dari Keuskupan Surabaya, RD Jemmy Fantaw dari Keuskupan Malang, RD. Fikalis Rendy Aktor dari Keuskupan Purwokerto, RD Barnabas Nono Juarno dari Keuskupan Bandung dan RD Anthonius Steven Lalu selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Pengantar dari Romo Joned
Bapa Uskup bersama para Romo

Dalam homilinya, Mgr Paskalis Bruno Syukur menyampaikan bacaan injil Markus 9: 41-50,  terdapat 4 kali kata yang sama diulang oleh Yesus yakni kata menyesatkan. Hal ini membantu Bapa uskup dalam melihat peran media komunikasi sosial, karena banyak sekali media sosial yang isinya menyesatkan orang entah itu namanya berita hoax atau apa yang dibicarakan di dunia maya terkadang tidak selaras dengan dunia nyata. “Kita semua tau peran dari komsos dalam keuskupan maupun dalam paroki itu tidak lain tidak bukan untuk menyampaikan kebenaran, untuk menyampaikan yang baik dan apa yang benar” Ungkap Uskup Keuskupan Bogor.

Sebelum berkat penutup, RD. Antonius Garbito Pamboaji selaku Ketua Panitia Temu Komsos Regio Jawa mengajak peserta mengenal bagaimana budaya dan kehidupan dari suku Baduy yang menjadi keciri-khasan daerah Banten. Selain itu romo yang akrab disapa dengan romo Garbito ini berkata, “Kalau di Keuskupan Malang ada Bromo, di kabupaten Lebak nanti ada gunung Halimun & kita akan melihat negri di atas awan & bercengkrama dengan alam disana.”

Sambutan RD Garbito
Sambutan RD Steven

“Tema Keuskupan Bogor tentang berjalan bersama itu selalu digaungkan dan kami tidak mau membuat itu sebagai sebuah angan-angan tetapi harus diwujudkan, maka didalam penyelenggaran-penyelenggaran seperti pertemuan regio dan juga yang lain-lain pasti temen-teman lainnya akan dilibatkan maka dari saya meminta Romo Garbito untuk mempersiapkan ini semua.” Ungkap Romo Joned selaku Ketua Komisi Komsos Keuskupan Bogor dalam sambutannya. Selain itu, Romo Joned memperkenalkan romo-romo yang berkarya di komsos Keuskupan di wilayah Regio Jawa.

Foto Bersama

Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yaitu Romo Steven menyampaikan harapannya kepada peserta agar terus menerus belajar dan mengejar teknologi, karena kalau kita tidak belajar, teknologi akan meninggalkan kita.

Mgr Paskalis Bruno Syukur selaku Uskup Keuskupan Bogor juga mengungkapkan bahwa keberhasilan KWI adalah hidupnya komsos-komsos di setiap Keuskupan. Hasilnya terlihat setiap komisi sosial di setiap Keuskupan terlihat hidup tentu saja karena adanya jaringan kerjasama.

Pemaparan karya komsos dari Keuskupan Agung Semarang oleh Steffi
Pemaparan karya komsos dari Keuskupan Purwokerto oleh RD Rendy

Setelah misa pembukaan kegiatan dilanjut dengan pemaparan dan perkenalan karya komsos di keuskupan oleh masing-masing keuskupan yang mempunyai keunikan di komsosnya. Kegiatan hari pertama ditutup dengan doa malam oleh Romo Joned.

Tim Penanggap yang Jeli

Kegiatan hari kedua diawali dengan misa pagi yg dipersembahkan secara konselebran dengan selebran utama RD Heribertus Budi Purwantoro didampingi oleh RD. Fikalis Rendy Aktor. Dalam homilinya romo yang biasa disapa dengan romo Rendy mengatakan “kita diajak untuk melihat kemurnian, motivasi dan tujuan sebagai komsosers kita diundang untuk melihat sarana-sarana kemajuan teknologi apakah bisa mencapai tujuan yang sejati yakni mengungkap sebuah kebenaran yaitu perjuangan keselamatan jiwa-jiwa manusia.”

Romo Rendy
Romo Budi

Kegiatan dilanjutkan dengan materi mengenai Harapan Akan Peranan Komisi Komsos di Keuskupan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur Ofm Selaku Sekretaris Jenderal KWI. Cara kerja komsos keuskupan yaitu mempunyai team penanggap yang jeli untuk membaca tanda-tanda jaman di media sosial, mempunyai team yang siap menyampaikan suara gereja, dan membangun jejaring dengan media online yang memberitakan kekatolikan.

Sesi Oleh Mgr Paskalis

Bapa Uskup menenkankan bahwa pentingnya network atau jaringan antara komsos keuskupan dengan komsos di paroki-paroki dan mempersiapkan relasi dengan sebaik-baiknya. Selain itu kedatangan Paus Fransiskus menjadi kesempatan bagi Komsos untuk membangun jaringan dan memberitakan kedatangan Bapa Suci dalam sudut pandang iman dan mewartakan kebaikan lewat media sosial.

Adanya ruang untuk tanya jawab dan diskusi bersama maka romo Steven menyampaikan “mari kita memanfaatkan kedatang bapa Paus untuk membangun relasi antar komsos serta menjadi ajang penyebaran pengajaran dan publikasi kepada umat.” dan ditanggapi oleh Prof Indrajit “Karena Bapa Paus milik dunia bukan milik orang katolik saja, maka dunia membutuhkan semangat yang penuh sehingga perlu dijalin kerjasama dengan tokoh lintas agama.”   

Sesi Oleh Prof Indrajit

Sesi selanjutnya mengenai Strategi Menuju Komunikasi Sosial Yang Lebih Personal Di Era Society 5.0 Dan 6.0 Oleh Profesor Richardus Eko Indrajit. Prof Indrajit menjelaskan mengenai society dimana society 1.0 adalah dimana manusia masih berada di era berburu, society 2.0 adalah era pertanian, society 3.0 adalah era industri yaitu ketika manusia sudah mulai menggunakan mesin untuk membantu aktivitas sehari-hari, society 4.0 adalah masyarakat informasi, dan society 5.0 adalah Artificial Intelligence.

Romo Theo
Romo Marcel

Pesan Bapa Paus dalam komunikasi sosial tahun 2022 “Mendengar dengan telinga hati” dan tahun 2023 “Bicara dengan Hati”, dimana 2 tahun kita diingatkan oleh Paus untuk memakai hati dalam mendengarkan maupun berbicara. “Bapa Paus tidak pernah mengatakan jangan menggunakan kecerdasan buatan bahkan tidak ada kata-kata yang sangat spesifik hati-hati kalau menggunakan kecerdasan buatan tapi yang dipilih adalah manfaatkan pergunakan kecerdasan artificial dengan kebijaksanaan hati jadi hatinya yang dia pakai adalah kebijaksanaan hati bukan hati-hati.” Ucap Prof Indrajit. Selain itu Prof indrajit juga mengatakan bahwa orang yang menggunakan kecerdasan articial itu tergantung pada pribadi yang ada di belakang teknologi “kalau Orangnya rajin ditambah kecerdasan artificial rajinnya makin menjadi-jadi, kalau orangnya etis ditambah kecerdasan artificial dia makin etis, tapi kalau sehari-hari dia melanggar etika ditambah teknologi dia makin menjadi-jadi melanggar etika, karena mesin tidak punya hati.” dengan kata lain Bapak Paus ingin mengatakan teknologi itu kebanyakan hampir semua ranahnya ada di intelektual seperti menghitung, mengurangi, mengali, dan menghafal tapi teknologi adalah mesin bukan manusia jadi seperti apapun teknologi pasti tidak akan pernah memiliki kesadaran, tidak akan pernah memiliki hati, maka dari itu Bapa Suci selalu menyandingkan teknologi dengan hati telinga, bicara melalui hati semua berkaitan dengan hati.

Romo Steven
Diskusi bersama

Setelah sesi dari Bapa Uskup dan Prof Indrajit, para peserta kemudian dibagi kedalam 4 kelompok yang nantinya akan mendiskusikan mengenai program menarik apa yang akan dikerjakan setelah pertemuan regio ini dan program kreatif apa yang bisa dikerjakan bersama dalam kunjungan Bapa Suci. Kegiatan hari kedua ditutup dengan pertemuan ketua-ketua komsos dari masing-masing keuskupan.

Berinteraksi Langsung dengan Masyarakat Baduy Luar

Masyarakat Baduy Luar
Anak-anak Baduy Luar

Peserta melakukan perjalanan rekreasi bersama untuk menyatu dengan budaya dan alam. Perjalanan dimulai pukul 07.00 pagi dari hotel Jayakarta dan tiba pukul 11.00 di Desa Ciboleger. Sesampainya di Desa Ciboleger peserta di pandu oleh Pak Junaedi penduduk asli Baduy untuk melakukan perjalanan ke Kp Gajeboh. Dimana disetiap langkah perjalanan yang peserta lewati, para peserta diajak untuk mengenal bagaimana orang Baduy berinteraksi. Setelah melakukan tracking di Kp Gajeboh, para peserta kembali menuju perjalanan ke villa bambu citorek dengan melewati pergunungan.

RD Garbito bersama Pak Junaedi Warga Asli suku Baduy
Pemain musik dari masyarakat Baduy Luar

Bercengkarama dengan Alam

Usai berdinamika yang cukup panjang, peserta diajak untuk bercengkrama dengan alam yaitu dengan melihat keindahan negeri diatas awan yang berada di Gunung Luhur ketinggian 901 mdpl daerah Citorek, Banten hingga kemudian menuju Gua Maria Kanada Rangkas Bitung.

Minggu, 26 Mei 2024 Hari Raya Tritunggal Mahakudus sekaligus misa penutupan Temu Komsos Regio Jawa yang dipimpin oleh RD. Yohanes SupartaVikaris Jenderal Keuskupan Bogor sebagai selebran utama, didampingi oleh RD Anthonius Steven Lalu, RD. Antonius Garbito Pamboaji, RD. Yustinus Joned Saputra, RD. Marselinus Wisnu Wardhana, RD. Petrus Sunusmo Galih Widodo, RD Heribertus Budi Purwantoro, RD. Robertus Theo Elno Respati, RD. Fikalis Rendy Aktor, dan RD Barnabas Nono Juarno.

Homili oleh Romo Parto
Peserta Komsos Regio Jawa bersama dengan umat mengikuti Misa

Dalam homili yang disampaikan Romo Parto, “Kita merayakan misteri Agung cinta Allah, misteri Allah yang mencintai kita dan tidak pernah mau meninggalkan kita & tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri sebagai ciptaan” Ucap Vikjen Keuskupan Bogor ini. Selain itu romo Parto juga mengajak umat yang hadir untuk mensyukuri perjalanan bersama teman-teman komsos regio jawa yang telah bersama-sama untuk belajar tentang bagaimana berwarta di dunia digital saat ini.

Pengumuman dari Romo Joned

Harapannya para pengiat media sosial ini menjadikan sarana-sarana untuk kesaksian. Sebelum berkat penutup romo Joned selaku Ketua Komisi Komsos Keuskupan Bogor juga mengumumkan pemenang film sejarah dokumenter paroki. Selamat kepada Paroki St Faustina Kowalska sebagai juara 1, Paroki Hati Kudus Yesus sebagai juara 2, dan Katedral BMV sebagai juara 3.

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *