Ibadat Jumat Agung: Yesus berkorban untuk kita

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.” (Yesaya 53:7)

Perjamuan Yesus bersama 12 murid-Nya telah usai. Kini, Yesus harus melakukan perjalanan panjang hingga ke puncak gunung Golgota dengan membawa salib di pundaknya. Ia disiksa, dihina, dan dihukum mati demi menyelamatkan umat manusia yang dikasihi-Nya. Yesus menanggung segala beban yang sangat berat di pundaknya secara sukarela.

Tidak seperti perayaan ekaristi biasanya, ibadat Jumat Agung diselenggarakan tanpa iringan lagu. Meja altar pun bersih tanpa alat liturgi di atasnya. Di awal ibadat, romo, misdinar, semua petugas liturgi, dan semua umat berlutut dan menundukkan kepala untuk menghormati Yesus yang tergantung di kayu salib.

Di Paroki St. Vincentius a Paulo Gunung Putri, ibadat Jumat Agung dipimpin oleh RD. Lukas Wiganggo (Ibadat pertama) dan RD. Alexander Ardhiyoga (Ibadat kedua). Turut dinyanyikan pula kisah sengsara Yesus oleh tim pasio.

Kita juga diajak untuk menghormat kepada salib Kristus sembari kain penutup yang terpasang di sana dibuka secara perlahan. Meskipun tidak ada perayaan ekaristi, kita tetap dipersatukan dengan Kristus dalam rupa roti yang disantap dalam upacara komuni.

Yesus taat sampai diri-Nya wafat di kayu salib. Banyak pengorbanan yang Ia lakukan demi kita. Walaupun Ia telah mati, tetapi Ia akan hidup bersama dengan Allah dan tinggal di dalam hati kita.

( Artikel dan foto by Komsos Vincentius – Mafa, Dinan, Mery, Yoga, Bryan)

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *