Foto: Komsos Keuskupan Bogor

Pada Selasa, 8 Maret 2022, Keuskupan Bogor mengadakan Rekoleksi Sinode Para Uskup di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata. Rekoleksi bersifat khusus, karena peserta terdiri dari para imam dan perwakilan biarawan – biarawati yang sedang bertugas di Dekanat Timur. Tema yang diangkat dalam rekoleksi ialah “Transformasi Pelayanan Gereja”. Rekoleksi ini memiliki empat bagian besar yakni pengantar, narasi refleksi, sharing per-kelompok, dan peneguhan. Bagian pengantar diisi oleh RD. Lukas Wiganggo. Narasi refleksi disampaikan oleh RP. Athanasius Maria, CSE. Pengeguhan diberikan oleh RD. Yohanes Suparta (Vikaris Jendral Keuskupan Bogor).

RD. Lukas Wiganggo menyampaikan pengantar sinode.
( Foto: Komsos Keuskupan Bogor )

Pada keempat bagian besar, terdapat dua bagian yang memiliki inspirasi yakni bagian kedua “narasi refleksi” dan ketiga “sharing per-kelompok”. Pada bagian pertama, Pater Athan menyampaikan beberapa hal reflektif, seperti kutipan dokumen gereja, Kitab Suci, dan fenomena umat. Beliau menegaskan bahwa sukacita terjadi ketika umat kristiani mampu berjumpa dengan Tuhan. Dalam konteks dinamika, fenomena umat, perjumpaannya dengan Tuhan dapat terjadi melalui aneka kegiatan, salah satunya mengunjungi umat yang jarang hadir dalam acara gereja. Kunjungan antar sesama umat mengandaikan bahwa gereja terbuka, hadir bagi seluruh umat.

RP. Athanasius Maria CSE menyampaikan “Narasi Refleksi”.
( Foto: Komsos Keuskupan Bogor )

Subyek perjumpaan dapat dilakukan juga oleh para imam dan biarawan-biarawati. Para imam dapat membuat agenda “kunjungan umat”. Biarawan-biarawati dapat membuat berbagai acara yang mampu melibatkan umat, seperti: donor darah dan pembagian sembako. Kehadiran para imam dan biarawan-biarawati mengandaikan bahwa gereja terbuka dan dekat dengan umat. Gereja, melalui mereka, dapat menjadi  “sahabat sejati bagi umat”. Iman umat dapat bertumbuh dan berkembang karena mereka hadir bersama dengannya.

Kehadiran mereka diharapkan dapat lebih proaktif. Maksudnya, mereka dituntut untuk mampu memberi transformasi iman umat. Umat mampu bersyukur, memperbaiki diri, terlibat aktif dalam Ekaristi dan masyarakat. Cara yang ditawarkan oleh beliau yakni keberanian mereka untuk mampu bersama dengan umat. Mereka tidak hanya menyampaikan karya keselamatan Allah di dalam Ekaristi dan berbagai pelayanan gereja, melainkan juga mampu memotivasi umat. Dengan kata lain, mereka diharapkan oleh beliau mampu menjadi gembala yang bermain. Gembala yang bermain mengandaikan bahwa terjadi relasi, komunikasi mereka dan umat. Mereka mampu mengenal umat, begitu pula sebaliknya. Kehadiran Kristus mampu dialami oleh mereka (para klerus, biarawan-biarawati, umat).    

(Kiri – kanan) RD. Aloysius Tri Harjono, RD. Nikasius Jatmiko, RD. Paulus Pera Arif Sugandi.
( Foto: Frater Stanis – Komsos PSVGP )

Pada bagian kedua, sharing kelompok, terdapat pengalaman inspiratif. Cara, dinamika setiap imam dan biarawan-biarawati dalam menanggapi panggilan berbeda satu sama lain. Seorang suster dapat terpanggil menjadi suster karena nyaman berada di suatu susteran. Seorang romo terpanggil karena memiliki kehendak untuk jauh dari orangtua. Seorang suster dapat terpanggil karena penolakan akan paksaan untuk menikah dengan pasangan yang dipilih oleh orangtua. Berbagai cara tersebut mengandaikan bahwa Roh Kudus hadir, menyapa setiap orang secara khusus. Roh Kudus mengenal setiap orang. Pengenalan dan sapaan-Nya membuat beberapa dari umat menjadi imam, biarawan-biarawati.

( Foto: Komsos Keuskuspan Bogor )

Berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *